Senin, 18 Oktober 2010

MERIANG


Menerima nasehat itu gampang – gampang susah. Gampangnya kalau hati lagi senang, yang nasehat orang yang diharapkan dan topiknya pas dengan yang dibutuhkan. Rasanya seperti menerima durian runtuh. Walau kata yang diomongin itu nyakitin, tetap berlapang dada bisa menerima. Senyum pun terus mengembang, mengalir deras menuju hati yang terdalam. Nancep. Tak merasa disakiti. Tak merasa dikeneki. Pokoknya eunak pol, melebihi sego liwet - jangan terong. Jamnya lewat pun masih semangat mendengarkan. Anteng. Adem. Penginnya lagi dan lagi.


Di sisi lain, ada orang yang susah menerima nasehat. Segala yang diomongkan terasa nggak pas terus. Ibarat sayuran kurang garam. Anyep. Kata – kata jadi hambar. Tak berkenan. Begini salah, begitu juga salah. Yang lain pada ketawa, eh dia malah sinis. Cengar – cengir dongkol. Waktu sekana gak abis – abis. Kenapa? Sebabnya bisa bermacam – macam. Bisa lagi bokek. Bisa juga emang lagi banyak masalah. Nggak suka dengan yang nasehat. Lagi capek berat, nggak ingin diganggu. Maunya istirahat total, tapi disuruh ngaji. Sakit hati. Ngambeg. Kenekan. Lagi berantem dengan pasangannya. Tidak sabar dan berpikir hal yang lain di waktu yang bersamaan. Dan masih banyak lagi sebab lainnya.

Dua gambaran di atas adalah ilustrasi umum kondisi para pendengar -pencinta nasehat dalam menerima nasehat yang dilakukan dengan cara oratoris. Maksudnya yang ngomong satu yang mendengarkan orang banyak. Atau nasehat dari atas ke bawah – top down – single show. Situasi yang seperti ini, lebih menguntungkan dan lebih enak ketimbang apa yang saya sebut sebagai nasehat pribadi: antar pribadi - orang per orang. Ternyata, budaya kita belum menunjukkan sikap yang dewasa dalam menerima maupun memberikan nasehat personal ini. Walau sudah jelas berbuat salah, kadang mulut tidak mau diam. Ketika dinasehati, masih saja nerocos memberikan pembelaan. Kadang yang nasehat malah terbalik menjadi yang dinasehati. Akibatnya, banyak orang yang memilih diam, daripada nanti malah membuat “keributan”. Paling cuma melaporkan kepada yang berwenang. Hal seperti ini tidak salah. Hanya perlu pengukuhan agar kita bisa benar – benar menikmati perintah Allah watawashou bil haq dan watawashou bish-shobr dengan sebenar - benarnya.

Pengalaman kecil pernah saya alami. Suatu ketika, pada suatu waktu, saya pernah ditungguin seseorang untuk dinasehati. Saya tidak pernah merasa melakukan kesalahan, tetapi ada yang menganggap saya melakukan hal yang aneh dan perlu diluruskan. Ketika saya mulai salam saya agak kaget, karena orang itu sudah menunggu dengan wajah angkernya persis menghadap wajah saya. Wajah ketemu wajah. Selesai salam, langsung si Bapak memberikan nasehatnya, “Mas, saya juga sering belum selesai baca tahiyyat. Tapi kalau imam sudah salam, maka saya juga terus salam. Nggak usah nunggu baca tahiyyat saya selesai”.

Setengah sadar, saya membalas nasehat itu dengan senyum dan diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut saya. Ucapan syukur pun lupa. Mungkin kalau di luar sholat, saya akan berargumenn; apa yang tidak pas dengan gerakan sholat saya? Setidaknya ucapan syukur, mau mengingatkan. Tetapi ucapan syukur apa? Bukankah yang saya lakukan benar? Saya memang sengaja salam, setelah imam selesai salam kanan dan kiri. Dan kadang memang agak terlambat. Demikian juga dengan gerakan sholat saya yang lain. Saya selalu menunggu imam telah sempurna melakukannya, baru saya menyusul. Nggak terburu – buru.

Mungkin semua sudah baca dan faham akan dalil – dalil di bawah ini. Tetapi prakteknya mungkin agak berbeda. Dan saya memilih imam sempurna melakukan sebuah gerakan, baru saya mengikutinya. Kalau misal imam takbir, maka saya menunggu sampai takbirnya sempurna, baru saya takbir. Kalau ruku’ juga begitu, imam sudah sempurna ruku’nya baru saya ruku’. Sujud pun sama, setelah imam sujud dengan sempurna baru saya sujud. Nah, salam pun begitu. Orang mungkin melihat saya sengaja menelatkan sholat, dan akhirnya saya mendapatkan hadiah itu. Tetapi apakah kita tidak ingat bahwa yang tidak boleh adalah mendahului imam?

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika dia takbir maka takbirlah kalian, jika dia membaca maka diamlah kalian, dan jika dia mengucapkan sami'allahu liman hamidah, maka katakanlah Allahumma Rabbana lakal hamdu." (HR. Nasai)

Rasulullah SAW bersabda: "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai?"(Muttafaqun alaih)

Begitulah hidup. Pemahaman orang bisa bermacam – macam. Ada yang menilai (mempunyai pengertian) kalau tidak sama dengan dirinya itu salah. Tidak sama dengan umumnya itu keliru. Padahal tidak begitu seharusnya. Harus dilihat dengan jernih dasar pengamalannya. Jangan suudhon duluan. Dan lebih arif lagi jika kita mau menanyakan kenapa ia melakukannya? Kenapa memilihnya? Tapi itu tak penting, the show must go on.

Sebagai orang yang hidup dalam kesahajaan, pengin menjadi orang baik luar – dalam, dunia dan akhirat malahan, maka sebuah perkeling tetaplah perkeling. Tanpa melihat benar dan salah, pun tidak bermaksud sombong – sombongan, setelah nasehat itu, ternyata badan saya pun meresponnya. Entah kenapa. Terus terang saya jadi kepikiran. Terngiang – ngiang terus dengan perkataannya. Saya buka kembali K. Sholah, saya deres kembali, untuk menemukan bahwa diri ini masih tetap di jalan sunnah. Masih meniti cinta Ilahi robbi. Dan akhirnya, di kesempatan lain, pun kuucap syukur kepadanya atas perkeling yang membuat saya mriang semalaman itu. Itulah indahnya hidup… jika semua berpikir hal – hal yang baik.

Oleh: Ustadz Fami

Senin, 28 Juni 2010

Generasi Asing (al-Ghuroba’)


Dari Abi Hurairoh berkata, bahwa Rosulullah bersabda;

“Islam itu pada awalnya dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing"

Dalam riwayat Ahmad; Yaitu orang-orang yang sholih berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.” (HR. Muslim)

Ditengah masyarakat yang berideologi keropos, berpolitik demokrasi, berekonomi riba, berkehidupan social materialis, berbudaya korup, berhukum sekular, berakhlaq barat, Alhamdulilah Allah masih lahirkan manusia-manusia pilihan-Nya untuk mengemban dakwah Islam ini ke seluruh pelosok dunia.

Siapakah orang asing ( Ghuroba’) itu ?

Rosulullah bersabda; Yaitu orang yang membuat perbaikan di saat manusia berbuat kerusakan. (HR. Muslim)

Al-Qodhi ‘iyadh berkata; maksud Islam akan kembali asing adalah ada di kota Madinah. “Sesungguhnya iman akan pasti berkumpul di Madinah sebagaimana ular berlindung di sarangnya” (HR. Bukhori)

Pada masa awalnya, orang-orang berhijrah ke Madinah. Di antaranya ada yang termotivasi untuk hidup berdekatan dengan rosulullah, ada yang ingin bertempat tinggal saja, dan ada yang ingin
membuat masyarakat guna melaksanakan agama. Dan maksud pada umumnya adalah Islam awal mulanya dipeluk oleh sebagian kecil orang, kemudian tersiar secara luas. Namun kelak pada suatu zaman pemeluk Islam yang benar-benar akan kembali sedikit seperti awal mulanya.

Hadits Amru bin Aufal-Muzanni berkata; “sesungguhnya agama ini awal mulanya dipandang asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut, yaitu orang yang berbuat perbaikan-perbaikan tatkala manusia berada pada kerusakan” (HR. Muslim).

Di tengah masyarakat yang terbuai dan terlalaikan dengan pernak-pernik kehidupan dunia, akan tetap ada manusia yang berpegang teguh pada tali kebenaran Islam ini, maka mereka seolah-olah dipandang aneh oleh orang-orang bodoh, karena berbeda dengan kebanyakan manusia pada umumnya.

Orang asing adalah mereka yang disebutkan dalam ayat;

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah semuanya dan jangan bercerai berai, ” (QS. Ali- Imron: 108)

Orang asing adalah mereka yang melaksanakan seruan ayat;

“Dan tidak pantas bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan manakala Allah dan rosul-Nya
telah menetapkan suatu urusan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rosul-Nya maka sungguh ia telah sesat dengan nyata” (QS. Al- Ahzab: 36)

Orang asing ( Al - Ghuroba’) adalah;

“Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidaklah beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim pada apa - apa yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benanrnya” (QS. An- Nisa’: 65)

Maka beruntunglah orang yang asing, kenapa ?

Orang asing adalah mereka yang mengikuti rosulullah dalam beragama yang meliputi aqidah, ibadah, manhaj, akhlaq, dan dakwah. Maka kebahagiaan bagi mereka. Sebagaimana do’a kita dalamsholat;
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka” (QS. Al-Fatihah: 6 -7)

Lantas, siapakah yang dimaksud orang yang diberi nikmat tersebut?. Yaitu;

“Dan orang-orang yang taat kepada Allah dan rosul, maka mereka itulah golongan yang bersama orang-orang yang beri nikmat oleh Allah atas mereka, yaitu para nabi, shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang sholih” (QS. An-Nisa’: 69)

Kesimpulannya adalah : asing maksudnya sedikit sekali manusia yang benar-benar berada pada sunnah sehingga disifati asing, tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya dan juga manusia pilihan yang tidak ikut-ikutan dengan gelombang kehidupan materilialisme, tidak pula terombang- ambing dengan gelimang syahwat dan syubhat.

Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka di dunia dan akhirat. Sebagaimana telah dijelaskan. Dan bukan kebanyakan manusia yang melalaikan dirinya akan tujuan kehidupannya. Amiin.


Created By Okim Gokiel