Jumat, 12 April 2013

Amalan Yang Memudahkan Datangnya Rejeki

Akhir – akhir ini saya menjumpai di beberapa majelis ta’lim, pigura berukuran besar dengan judul di atas. Ada perasaan curious melihatnya. Bukan karena bentuknya yang bagus, rapi, terstruktur dan eye catching, tetapi kepada jumlahnya. Kenapa hanya 9 yang ditulis, kalau nyatanya lebih dari itu. Mungkin orang sering terhipnotis dengan 9, sebagai angka keberuntungan, hokie atau sebagai angka terbesar dalam pengetahuan manusia. Tapi bagaimanapun, sebagai bentuk kreatifitas dan dalam rangka saling bernasehat, hal ini perlu diacungi dua jempol: like this. Berikut saya tambahkan yang mungkin bisa menjadi referensi yang lebih bermanfaat dan berdaya guna. 1. Memperbanyak istighfar. Berdasarkan sabda dari Rosulullah SAW dalam hadist riwayat Ahmad yang artinya "Barang siapa yang memperbanyak membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan segala kesusahan, menjadi kemudahan dan dari segala kesempitan Allah menjadikan jalan keluar dan Allah akan memberi rezeki untuknya dari yang dia sangka maupun yang tidak dia sangka". Rosulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya rajul dicegah rezekinya, sebab dosa yang dikerjakannya.” (HR. Muslim) Sabda Rasulullahi SAW dalam Hadist Sunan Ibnu Majah yang artinya : "Sesungguhnya seorang laki-laki akan dihalang-halangi rezekinya sebab kesalahan (dosa) yang telah ia kerjakan". 2. Memperbanyak Infaq Fiisabilillah. Allah berfirman dalam Alqur'an Surat Al-Baqoroh ayat 261 yang artinya "Perumpamaan orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui". Dan juga Allah berfirman dalam Hadist Qudsi yang artinya "Allah yang Maha Mulya dan Maha Agung berfirman : infaqlah kalian maka Aku akan memberi nafkah untuk kalian". (HR.Bukhori). 3. Memperbanyak Shilaturrahim (Menyambung Famili). Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat 1, yang artinya "Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu". Sabda Rasululloh SAW dalam Hadist Bukhori yang artinya "Barang siapa yang ingin diluaskan dalam rezekinya dan ingin di panjangkan dalam umurnya maka supaya menyambung famili". 4. Senang menghormati tamu. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam Hadist Riwayat Abu Syaikh yang artinya "Tamu datang dengan membawa rezekinya dan dia pergi dengan menghilangkan dosa kaum, dan Allah menghapus dari dosanya dan juga dosa-dosa kaum". Berdasarkan hadist ini, siapapun yang menjadi tamu harus dihormati jangan disia-siakan, sebab jika menyia-nyiakan tamu maka akan mendapat ancaman. Juga sabda Rasulullah SAW; “Tamu datang pada kalian dengan membawa rezeki.” (HR. Muslim) 5. Berusaha menjadi orang yang jujur dan amanat. Rosulullah SAW dalam hadist riwayat ad-Dailami, bersabda "Amanah bisa menarik rezeki (mendatangkan) pada rezeki sedangkan khianat dapat menarik (mendatangkan) kemlaratan". 6. Meningkatkan taqwa kepada Allah. Firman Allah dalam Al Qur'an Surat At Tholaq ayat 2-4, yang artinya: "Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memudahkan di dalam semua perkara orang tersebut". 7. Memperbanyak tawakal kepada Allah. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat At Thoolaq ayat 3 , yang artinya : "...Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya....".Dan sesuai dengan sabda Rasulullahi SAW dalam Hadist Sunan Ibnu Majah, yang artinya : "Nabi Bersabda : seandainya kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi rezeki pada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung , ketika pagi burung dalam keadaan lapar namun ketika sore burung dalam keadaan kenyang". 8. Selalu berprasangka baik kepada Allah (Husnudhon Billaah). Berprasangka baik merupakan perintah dari Allah dan Rosul, ternyata mendatangkan rezeki dari Allah. Berprasangka yang baik merupakan inti dan sebaik-baiknya ibadah kepada Allah, sesuai sabda Rosulullahi SAW dalam Hadist Riwayat At Tirmidzi; “Sesungguhnya baiknya persangkaan kepada Allah termasuk sebaik-baiknya ibadah kepada Allah". 9. Menertibkan Sholat Tahajud dan Berdoa 1/3 malam yang akhir. Seperti yang dijelaskan dalam Hadist Bukhori, yang artinya : "Rosulullah SAW bersabda : Allah yang Maha Barokah dan Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia, ketika tepat pada waktu 1/3 malam yang akhir sambil berfirman : Barang siapa yang berdoa padaKu akan Aku kabulkan, barang siapa yang minta padaKu akan Aku beri dan barang siapa yang minta ampun padaKu akan Aku ampuni". 10. Menertibkan membaca Surat Al-Waqiah. Sabda Rasulllah SAW yang bermaksud: "Barangsiapa yang membaca surah al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan tertimpa kesulitan selamanya " (Riwayat Ibn Mas‘ud: al-Azkar, al-Jami al-Soghir) “Ajarkanlah surah Al-Waqi’ah kepada isteri-isterimu. Karena sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady) 11. Merutinkan sholat dhuha (terutama 4 rekaatnya) Rosululloh bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani) Hitungan ini bisa bertambah, atau malah berkurang. Yang terpenting adalah bagaimana hal ini bisa menginspirasi kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jangan terpaku hanya urusan rezeki saja, maksudnya kekayaan thok. Sebab rezeki itu bermakna luas, bukan sekedar harta dan benda semata.

Jumat, 11 Februari 2011

Bangun Malam

Bagi yang masih kesulitan untuk bangun malam, tak usah khawatir. Kenapa? Karena sebenarnya setiap diri memampukan untuk bangun malam. Kok bisa? Sebab yang menciptakan manusialah yang membuat aturannya. Allah tidak akan pernah salah. Allah tahu dengan kemampuan hambanya. Berat bukan berarti tidak bisa. Allah lebih tahu dengan anatomi dan kapabiliti jasad setiap makhlukNya. Hanya kebanyakan hambanyalah yang pepeko, sibuk ngurusi kerjanya, sehingga lupa waktu bahkan lupa diri. Saat muda sibuk mengumpulkan harta dan lupa dengan kesehatannya, saat tua sibuk ngurusi kesehatannya dengan banyak mengeluarkan harta simpanannya.

Nah, selain jawaban di atas ada satu jawaban lagi yang paling saya suka, sekaligus juga saya benci. Jawaban itu begini, kita gak perlu kuatir gak bisa bangun malam, gak bias sholat malam, gak bisa doa malam sebab masih banyak temannya. Masih banyak orang yang belum mampu rutin bangun malam. Yah, toh. Jadi buat apa bersedih atau kuatir. Tetapi apakah kita tega memubadzirkan potensi diri yang sudah disetting dari sononya. Ibarat HP, jangan hanya dibuat sms doang, ia bisa buat telpon, ngenet, alarm, mms, dan fungsi lain yang sudah disediakan oleh produsen dan providernya. Ini masalah yang perlu perhatian.

Sepanjang pengamatan, penelaahan dan pengalaman dari para pecinta bangun malam, kunci agar bisa bangun malam adalah bagaimana memulai tidurnya. Tidur yang benar akan menghasilkan efek yang besar; badan sehat, segar dan bias bangun sepertiga malam. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW, agar bias bangun malam mulailah tidur dengan miring ke kanan dengan berbantalan tangan di bawah pipi yang kanan, sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad saw yang artinya: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, "Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan".

“Rasulullah Muhammad SAW apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350).

Para salafus sholih memberikan keterangan yang panjang lebar tentang keunggulan tidur miring ke kanan ini. Ia tidak hanya unggul dalam hal kesehatan dan kebugaran, tetapi juga bermanfaat untuk bisa menemukan jalan untuk bangun malam. Ibnu Qayyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan pola tidur dan bangun beliau, niscaya mengetahui bahwa tidur beliau tersebut paling proporsional dan paling bermanfaat untuk badan, organ, dan kekuatan." Tujuannya adalah agar makanan dapat masuk ke dalam lambung dengan sempurna. Hal ini dikarenakan posisi lambung yang berada agak ke samping kiri.

Ada yang menyatakan bahwa hikmah tidur dengan posisi miring ke kanan adalah agar orang yang melakukannya tidak terlalu lelap dalam tidurnya, karena posisi hati/jantung di dalam tubuhnya agak miring ke kiri. Jadi jika seseorang tidur dengan posisi miring ke kanan, maka jantungnya akan terdorong dari tempatnya di sebelah kiri. Hal itu akan mencegah orang yang bersangkutan tidur terlalu lama dan terlalu lelap.

Posisi tidur Nabi SAW setelah miring kesebelah kanan kemudian, beliau berbalik bertumpu sedikit pada sisi kiri, supaya dengan begitu proses pencernaan lebih cepat karena condongnya lambung di atas hati. Kemudian beliau kembali tidur bertumpu pada sisi kanan lagi, agar makanan segera larut dari lambung; jadi posisi permulaan dan posisi terakhir tidur bertumpu pada sisi kanan.

Tidur miring kanan ini seperti yang diajarkan dalam first aid training - proses recovery. Kelebihannya, tidur miring mencegah jatuhnya lidah ke belakang yang dapat menyumbat jalan nafas. Lain halnya jika tidur pada posisi terlentang maka relaksasi lidah pada saat tidur dapat mengakibatkan penghalangan jalan nafas, penampakan dari luar berupa mendengkur. Orang yang mendengkur mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen malah kadang-kadang dapat terjadi henti nafas untuk beberapa detik yang akan membangunkan orang yang tidur dengan posisi demikian. Orang tersebut biasanya akan bagun dengan keadaan pusing karena kurangnya pasokan oksigen ke otak. Tentunya ini sangat mengganggu tidur kita.

Tidur miring ke sebelah kanan membuat jantung tidak tertimpa organ lainnya ini karena posisi jantung yang memang berada lebih di sebelah kiri. Tidur bertumpu pada sisi kiri menyebabkan curah jantung yang berlebihan karena darah yang masuk ke atrium juga banyak, sebab paru-paru kanan berada diatas sedangkan paru-paru kanan mendapatkan pasokan darah yang lebih banyak dari paru-paru kiri.

Bagi kesehatan paru-paru, paru-paru kiri lebih kecil dibandingkan dengan paru-paru kanan. Jika tidur miring kesebelah kanan, jantung akan jatuh kesebelah kanan, itu tidak menjadi masalah karena paru-paru kanan besar, lain halnya kalau bertumpu pada sebelah kiri, jantung akan menekan paru kiri yang berukuran kecil, tentu ini sangat tidak baik.

Selain posisi tidur yang miring ke kanan Nabi SAW melengkapi dengan meluruskan punggungnya pada saat tidur, manfaatnya adalah supaya organ-organ dalam tidak tertekan, posisi tersebut juga melancarkan peredaran darah. Juga ditambah dengan sedikit menekuk kaki. Di dunia kedokteran seorang dokter akan meminta pasien menekuk kakinya jika dokter tersebut akan memeriksa perut pasien. Fungsi dari sedikit menekuk kaki adalah untuk mengendurkan otot-otot perut sehingga lebih mudah untuk diperiksa. Menekuk kaki sedikit pada saat tidur menolong organ-organ dan otot otot perut itu sendiri untuk relaksasi lebih sempurna. Sehingga tidur kita lebih nyaman.

Kelengkapan lainnya dari tidur miring ke kanan adalah dengan menggunakan telapak tangan sebagai bantal. Leher yang tidak lurus pada saat tidur menyebabkan sakit leher pada saat bangun dan biasanya ini menetap beberapa lama sehingga mengganggu aktifitas. Maha suci Allah yang menciptakan tangan sedemikian rupa sehingga apabila kita melihat orang yang tidur dengan telapak tangan maka antara kepala, leher dan punggung tercipta garis lurus.

Itu semua teori. Itu semua hikmah dari orang yang telah mempraktekkannya. Sekarang waktunya bagi kita untuk mencobanya. Siapa tahu di sana kita menemukan jalannya. Jangan berkilah masih banyak temannya sehingga kita enggan untuk mencobanya. Dan tidak ada hal yang lebih baik kecuali disertai niat yang kuat dan murni mencari keridhoan Allah. Barangsiapa yang mempersungguh Allah akan berikan jalannya. Ingatlah kemuliaan orang iman adalah bangun malam. Dari Sahal bin Sa’ad ra., dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu pasti dibalas karenanya, cintailah siapa yang kamu sukai karena kamu akan meninggalkannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mu’min adalah qiyamul lail dan kehormatannya adalah merasa kaya/cukup dari manusia (gak minta – minta).” (Rowahu Thabrani fi Mu’jam al-Ausath).

Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah

Jumat, 24 Desember 2010

10 Penyebab Gigi Kuning yang Tidak Kita Sadari


Jangan salahkan pasta gigi jika gigi Anda masih saja kuning walaupun Anda tak pernah absen menggosok gigi secara rutin. Ada 10 hal berikut yang menyebabkan gigi Anda kuning.
1. Teh Herbal

Menjaga kelangsingan tubuh serta kesehatan dengan teh herbal menjadi kebiasaan yang umum akhir-akhir ini. Tubuh terasa lebih bugar, dan lebih langsing. Namun, ternyata teh herbal ini membawa efek samping yang buruk bagi gigi.

Mereka yang rutin mengonsumsi teh herbal cenderung memiliki gigi kuning. Menanggapi hal ini, para peneliti Jepang, seperti dilansir Dailymail, menyarankan agar para konsumen teh herbal lebih memilih teh hijau.

Kandungan katekin di dalam teh hijau dipercaya dapat menekan bakteri pemroduksi asam di gigi, sehingga gigi kuning lebih mudah dicegah.


2. Obat Mata

Mungkin Anda bingung, apa hubungan obat tetes mata dengan kuningnya gigi. Namun, obat tetes mata ini memang menjadi salah satu penyebab gigi menjadi kuning. Kandungan kimia dalam obat tetes mata menekan produksi saliva.

Dimana saliva akan menetralisir asam di dalam mulut. Karena jumlah saliva ini berkurang, secara otomatis asam di dalam mulut akan meningkat. Di sini bakteri akan berkembang biak lebih pesat, sehingga gigi menjadi kuning.


3. Berenang

Hasil studi yang dilakukan terhadap 500 orang perenang menyebutkan bahwa 66% dari perenang mengalami kerusakan pada gigi serta gigi kuning. Hal ini disebabkan karena kandungan klorin yang tinggi di dalam air kolam.

Klorin tersebut mempengaruhi pH air yang menyebabkan kandungan asamnya lebih tinggi. Untuk itu, jangan lupa menyikat gigi setelah berenang.


4. Pemutih gigi

Bagaimana bisa pemutih gigi malah membuat gigi menjadi kuning? Well, ternyata cara kerja pemutih gigi ini tidak sesederhana yang kita pikirkan. Kebanyakan, pemutih gigi bekerja dengan mengerosi gigi.

Dan seringkali, pemutih gigi yang dikenakan di rumah, tidak bekerja secara maksimal. Bukannya memutihkan, mereka malah mengikis gigi, membuatnya rapuh dan kuning.


5. White Wine

Ternyata anggur putih justru memberikan efek lebih buruk bagi gigi. “Anggur putih lebih cepat mengikis gigi,” ungkap Dr Paul Ashley, direktur institusi kesehatan gigi, di University College Hospitals.


6. Menyikat gigi setelah makan yang manis

Saking takutnya ada bakteri yang tinggal di gigi, maka Anda akan buru-buru menyikat gigi setelah makan yang manis-manis. Benarkah hal ini? Ternyata justru hal ini salah. Setelah proses pengunyahan, maka mulut cenderung bersifat asam.

Saat ini akhirnya gigi menetralisir keadaan mulut dengan mengeluarkan enamel untuk melindungi gigi. Jika Anda terburu-buru menyikat gigi, maka enamel ini akan terbuang sia-sia dan bakteri justru bebas berkembang. Untuk itu sangat disarankan menyikat gigi setidaknya 1 jam setelah makan yang manis-manis.


7. Diabetes

Tak bisa dipungkiri bahwa penyakit yang satu ini memang menyumbangkan efek gigi kuning, rapuh bahkan keropos. Sayangnya, banyak penderita diabetes tidak menyadari bahwa penyakitnya ini juga mempengaruhi keadaan giginya.


8. Rokok

Selain penyakit diabetes, rokok juga membuat gigi menjadi kuning. Kandungan nikotin di dalam rokok menyebabkan ruang mulut menjadi asam, nikotin-nikotin terikat pada elemen gigi dan tinggal pada dinding-dinding gigi. Tak heran jika mereka yang merokok hampir sulit untuk punya gigi putih bersih.


9. Minuman berenergi

Karena dibuat untuk menggantikan energi dan garam yang hilang saat berolahraga, maka minuman berenergi dilengkapi dengan gula dan asam.

Berdasarkan studi yang dilakukan University of Birmingham, ditemukan bahwa minuman berenergi bersifat korosif ketimbang air mineral. Zat kimia yang terkandung dalam minuman berenergi cenderung merusak dan mengikis gigi.


10. Membuka kemasan dengan gigi

Saking kuatnya gigi dan tak ada gunting di sekitar Anda, maka Anda memutuskan membuka kemasan dengan gigi Anda. STOP kebiasaan ini! Tanpa Anda sadari, kebiasaan ini akan membuat gigi lebih mudah rapuh dan lemah. Ketika gigi rapuh, secara otomatis warnanya tidak akan sehat dan cenderung menguning.

Jadilah Manusia Tangguh


Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat.

Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya. Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.

Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.

Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.

Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.

sumber :http://wargaldii.com/jadilah-manusia-tangguh.html

Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: “Kita harus menjadi manusia tangguh”. Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan? Hmm?

Senin, 18 Oktober 2010

MERIANG


Menerima nasehat itu gampang – gampang susah. Gampangnya kalau hati lagi senang, yang nasehat orang yang diharapkan dan topiknya pas dengan yang dibutuhkan. Rasanya seperti menerima durian runtuh. Walau kata yang diomongin itu nyakitin, tetap berlapang dada bisa menerima. Senyum pun terus mengembang, mengalir deras menuju hati yang terdalam. Nancep. Tak merasa disakiti. Tak merasa dikeneki. Pokoknya eunak pol, melebihi sego liwet - jangan terong. Jamnya lewat pun masih semangat mendengarkan. Anteng. Adem. Penginnya lagi dan lagi.


Di sisi lain, ada orang yang susah menerima nasehat. Segala yang diomongkan terasa nggak pas terus. Ibarat sayuran kurang garam. Anyep. Kata – kata jadi hambar. Tak berkenan. Begini salah, begitu juga salah. Yang lain pada ketawa, eh dia malah sinis. Cengar – cengir dongkol. Waktu sekana gak abis – abis. Kenapa? Sebabnya bisa bermacam – macam. Bisa lagi bokek. Bisa juga emang lagi banyak masalah. Nggak suka dengan yang nasehat. Lagi capek berat, nggak ingin diganggu. Maunya istirahat total, tapi disuruh ngaji. Sakit hati. Ngambeg. Kenekan. Lagi berantem dengan pasangannya. Tidak sabar dan berpikir hal yang lain di waktu yang bersamaan. Dan masih banyak lagi sebab lainnya.

Dua gambaran di atas adalah ilustrasi umum kondisi para pendengar -pencinta nasehat dalam menerima nasehat yang dilakukan dengan cara oratoris. Maksudnya yang ngomong satu yang mendengarkan orang banyak. Atau nasehat dari atas ke bawah – top down – single show. Situasi yang seperti ini, lebih menguntungkan dan lebih enak ketimbang apa yang saya sebut sebagai nasehat pribadi: antar pribadi - orang per orang. Ternyata, budaya kita belum menunjukkan sikap yang dewasa dalam menerima maupun memberikan nasehat personal ini. Walau sudah jelas berbuat salah, kadang mulut tidak mau diam. Ketika dinasehati, masih saja nerocos memberikan pembelaan. Kadang yang nasehat malah terbalik menjadi yang dinasehati. Akibatnya, banyak orang yang memilih diam, daripada nanti malah membuat “keributan”. Paling cuma melaporkan kepada yang berwenang. Hal seperti ini tidak salah. Hanya perlu pengukuhan agar kita bisa benar – benar menikmati perintah Allah watawashou bil haq dan watawashou bish-shobr dengan sebenar - benarnya.

Pengalaman kecil pernah saya alami. Suatu ketika, pada suatu waktu, saya pernah ditungguin seseorang untuk dinasehati. Saya tidak pernah merasa melakukan kesalahan, tetapi ada yang menganggap saya melakukan hal yang aneh dan perlu diluruskan. Ketika saya mulai salam saya agak kaget, karena orang itu sudah menunggu dengan wajah angkernya persis menghadap wajah saya. Wajah ketemu wajah. Selesai salam, langsung si Bapak memberikan nasehatnya, “Mas, saya juga sering belum selesai baca tahiyyat. Tapi kalau imam sudah salam, maka saya juga terus salam. Nggak usah nunggu baca tahiyyat saya selesai”.

Setengah sadar, saya membalas nasehat itu dengan senyum dan diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut saya. Ucapan syukur pun lupa. Mungkin kalau di luar sholat, saya akan berargumenn; apa yang tidak pas dengan gerakan sholat saya? Setidaknya ucapan syukur, mau mengingatkan. Tetapi ucapan syukur apa? Bukankah yang saya lakukan benar? Saya memang sengaja salam, setelah imam selesai salam kanan dan kiri. Dan kadang memang agak terlambat. Demikian juga dengan gerakan sholat saya yang lain. Saya selalu menunggu imam telah sempurna melakukannya, baru saya menyusul. Nggak terburu – buru.

Mungkin semua sudah baca dan faham akan dalil – dalil di bawah ini. Tetapi prakteknya mungkin agak berbeda. Dan saya memilih imam sempurna melakukan sebuah gerakan, baru saya mengikutinya. Kalau misal imam takbir, maka saya menunggu sampai takbirnya sempurna, baru saya takbir. Kalau ruku’ juga begitu, imam sudah sempurna ruku’nya baru saya ruku’. Sujud pun sama, setelah imam sujud dengan sempurna baru saya sujud. Nah, salam pun begitu. Orang mungkin melihat saya sengaja menelatkan sholat, dan akhirnya saya mendapatkan hadiah itu. Tetapi apakah kita tidak ingat bahwa yang tidak boleh adalah mendahului imam?

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika dia takbir maka takbirlah kalian, jika dia membaca maka diamlah kalian, dan jika dia mengucapkan sami'allahu liman hamidah, maka katakanlah Allahumma Rabbana lakal hamdu." (HR. Nasai)

Rasulullah SAW bersabda: "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai?"(Muttafaqun alaih)

Begitulah hidup. Pemahaman orang bisa bermacam – macam. Ada yang menilai (mempunyai pengertian) kalau tidak sama dengan dirinya itu salah. Tidak sama dengan umumnya itu keliru. Padahal tidak begitu seharusnya. Harus dilihat dengan jernih dasar pengamalannya. Jangan suudhon duluan. Dan lebih arif lagi jika kita mau menanyakan kenapa ia melakukannya? Kenapa memilihnya? Tapi itu tak penting, the show must go on.

Sebagai orang yang hidup dalam kesahajaan, pengin menjadi orang baik luar – dalam, dunia dan akhirat malahan, maka sebuah perkeling tetaplah perkeling. Tanpa melihat benar dan salah, pun tidak bermaksud sombong – sombongan, setelah nasehat itu, ternyata badan saya pun meresponnya. Entah kenapa. Terus terang saya jadi kepikiran. Terngiang – ngiang terus dengan perkataannya. Saya buka kembali K. Sholah, saya deres kembali, untuk menemukan bahwa diri ini masih tetap di jalan sunnah. Masih meniti cinta Ilahi robbi. Dan akhirnya, di kesempatan lain, pun kuucap syukur kepadanya atas perkeling yang membuat saya mriang semalaman itu. Itulah indahnya hidup… jika semua berpikir hal – hal yang baik.

Oleh: Ustadz Fami

Senin, 28 Juni 2010

Generasi Asing (al-Ghuroba’)


Dari Abi Hurairoh berkata, bahwa Rosulullah bersabda;

“Islam itu pada awalnya dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing"

Dalam riwayat Ahmad; Yaitu orang-orang yang sholih berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.” (HR. Muslim)

Ditengah masyarakat yang berideologi keropos, berpolitik demokrasi, berekonomi riba, berkehidupan social materialis, berbudaya korup, berhukum sekular, berakhlaq barat, Alhamdulilah Allah masih lahirkan manusia-manusia pilihan-Nya untuk mengemban dakwah Islam ini ke seluruh pelosok dunia.

Siapakah orang asing ( Ghuroba’) itu ?

Rosulullah bersabda; Yaitu orang yang membuat perbaikan di saat manusia berbuat kerusakan. (HR. Muslim)

Al-Qodhi ‘iyadh berkata; maksud Islam akan kembali asing adalah ada di kota Madinah. “Sesungguhnya iman akan pasti berkumpul di Madinah sebagaimana ular berlindung di sarangnya” (HR. Bukhori)

Pada masa awalnya, orang-orang berhijrah ke Madinah. Di antaranya ada yang termotivasi untuk hidup berdekatan dengan rosulullah, ada yang ingin bertempat tinggal saja, dan ada yang ingin
membuat masyarakat guna melaksanakan agama. Dan maksud pada umumnya adalah Islam awal mulanya dipeluk oleh sebagian kecil orang, kemudian tersiar secara luas. Namun kelak pada suatu zaman pemeluk Islam yang benar-benar akan kembali sedikit seperti awal mulanya.

Hadits Amru bin Aufal-Muzanni berkata; “sesungguhnya agama ini awal mulanya dipandang asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut, yaitu orang yang berbuat perbaikan-perbaikan tatkala manusia berada pada kerusakan” (HR. Muslim).

Di tengah masyarakat yang terbuai dan terlalaikan dengan pernak-pernik kehidupan dunia, akan tetap ada manusia yang berpegang teguh pada tali kebenaran Islam ini, maka mereka seolah-olah dipandang aneh oleh orang-orang bodoh, karena berbeda dengan kebanyakan manusia pada umumnya.

Orang asing adalah mereka yang disebutkan dalam ayat;

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah semuanya dan jangan bercerai berai, ” (QS. Ali- Imron: 108)

Orang asing adalah mereka yang melaksanakan seruan ayat;

“Dan tidak pantas bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan manakala Allah dan rosul-Nya
telah menetapkan suatu urusan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rosul-Nya maka sungguh ia telah sesat dengan nyata” (QS. Al- Ahzab: 36)

Orang asing ( Al - Ghuroba’) adalah;

“Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidaklah beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim pada apa - apa yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benanrnya” (QS. An- Nisa’: 65)

Maka beruntunglah orang yang asing, kenapa ?

Orang asing adalah mereka yang mengikuti rosulullah dalam beragama yang meliputi aqidah, ibadah, manhaj, akhlaq, dan dakwah. Maka kebahagiaan bagi mereka. Sebagaimana do’a kita dalamsholat;
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka” (QS. Al-Fatihah: 6 -7)

Lantas, siapakah yang dimaksud orang yang diberi nikmat tersebut?. Yaitu;

“Dan orang-orang yang taat kepada Allah dan rosul, maka mereka itulah golongan yang bersama orang-orang yang beri nikmat oleh Allah atas mereka, yaitu para nabi, shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang sholih” (QS. An-Nisa’: 69)

Kesimpulannya adalah : asing maksudnya sedikit sekali manusia yang benar-benar berada pada sunnah sehingga disifati asing, tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya dan juga manusia pilihan yang tidak ikut-ikutan dengan gelombang kehidupan materilialisme, tidak pula terombang- ambing dengan gelimang syahwat dan syubhat.

Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka di dunia dan akhirat. Sebagaimana telah dijelaskan. Dan bukan kebanyakan manusia yang melalaikan dirinya akan tujuan kehidupannya. Amiin.


Created By Okim Gokiel

Jumat, 28 Mei 2010

BELAJAR MENCINTAI DENGAN TULUS


Pengucapan kata-kata penuh mesra, adalah bagian dari ekspresi cinta kasih seseorang kepada kekasih hatinya terutama kepada istri/suami tercinta.Sebagai bentuk ekspresi dan apresiasi cinta, terkadang pernyataan itu disampaikan dalam dua bentuk kalimat dengan esensi yang hampir sama, seperti dua bentuk pernyataan dibawah ini :
Kalimat pertama mengatakan : “Aku mencintai kamu karena aku membutuhkanmu…”

Sedangkan bentuk kalimat yang kedua mengungkapkan : “Aku membutuhkanmu karena aku cinta padamu…” Sepertinya ada kemiripan dalam mengungkapkan kedua kalimat tersebut. Akan tetapi, apabila diperhatikan secara cermat, kedua kalimat tersebut mempunyai perbedaan mendasar, terutama pada sisi pengertian atau makna yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan terletak pada apakah ada nilai ketulusan dari orang yang mengucapkannya. Dalam menjalani hubungan sehari-hari dengan orang yang kita cintai (suami/istri), memang sudah selayaknya kita melakukannya dengan penuh ketulusan. Tidaklah baik kiranya apabila dalam menjalani rumah tangga, salah satu pihak selalu memperhitungkan atau mempertimbangkan segala sesuatunya.

Ketika ada indikasi sikap tersebut tetap dipertahankan, maka sikap tersebut pada suatu waktu nanti akan dapat menjadi kerikil tajam sumber perpecahan atau pertengkaran, yang akhirnya bisa menjadi penyebab runtuhnya hubungan cinta kasih antar pasutri. Karena Ketulusan itu tidak menuntut…(ho..ho..ho..)

Terima apa adanya..{ hmm..hmmm} Terlalu banyak menuntut hanya akan berujung pada kepentingan pribadi, sehingga tidak akan mampu menambahkan kedewasaan hubungan. Dalam hubungan, jangan mencemari hati dan cinta dengan banyak tuntutan, karena bisa-bisa malah merapuhka hubungan. Jangan banyak mengeluh kepada pasangan, tapi ucapkan syukur dalam setiap menghadapi kekalutan hidup. Sikap untuk belajar memberi yang terbaik untuk pasangan, akan semakin memperbesar kesetiaan cinta kepada pasangan Anda

Ketulusan itu, tidak mengharapkan adanya sikap balas budi… karena dalam perbuatan tulus, ada pengorbanan… Oleh karena perbuatan sebuah tindakan yang didasarkan pada ketulusan hati, seseorang akan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain karena perbuatan yang dilandasi ketulusan tersebut, telah membuka pintu harapan (bahkan mungkin pula pintu kehidupan) kepada orang lain yang menerima perbuatan tulus tersebut.

Terkait dengan sebuah Pernikahan, Pada saat kita telah menerima atau telah menyatakan pernyataan cinta kepada seseorang yang kita kasihi, itu sama artinya kita telah siap untuk membagi hati serta sebagian waktu kita dalam mengisi hari-hari kita bersama suami/istri.

Adanya penerimaan diri untuk membuka hati dalam menerima atau menyatakan rasa cinta kepada seseorang, seharusnya diikuti pula oleh adanya keterbukaan pola pikiran kita, karena sikap open minded kita, kelak akan sangat mempengaruhi serta menentukan pada cara pandang atau pada cara kita memandang kepribadian maupun kehidupan suami/istri kita.

ØKenapa begitu?

ØKarena salah satu hakekat mengasihi orang lain dengan penuh ketulusan itu, adalah mencerna terlebih dahulu baru berpendapat atau bertindak.

ØBerbuatlah karena hati kita yakin bahwa perbuatan kita itu adalah sebuah perbuatan benar.

ØJanganlah kita membangun opini pribadi yang ingin menghadirkan suatu pola pandangan sebagai sebuah pembenaran.

Cara menentukan sikap yang didasarkan pada cara memandang kepribadian serta kehidupan suami/istri kita, akan turut menentukan atau mempengaruhi penilaian kita terhadapnya, yang kelak dapat berujung pada hadirnya sikap tulus untuk mau menerima keberadaan dan kondisi suami/istri, atau bahkan pada saat kita akan mengapresiasikan rasa sayangnya.

Hal itu perlu kita lakukan agar kita tidak melihat kekurangan yang ada pada suami/istri kita sebagai sesuatu yang bisa merusak hubungan cinta kasih , namun menghadirkan sikap diri untuk mau membantu memperbaiki atau menutupi kekurangannya itu.{PENTING}

Sikap ini merupakan tanda penerimaan kita, untuk mau mengenal serta perduli atas apa yang ada dalam diri suami/istri, Sisi kekurangan dalam diri seseorang, adalah sisi rentan yang dapat dijadikan alasan bagi seseorang untuk berubah sikap setia,bahkan menjadikan pasangan kurang berharga di mata kita,padahal tak ada seorangpun yang sempurna kecuali rasulullullah.

üDalam menjalin hubungan dengan suami/istri, kita tidak boleh bersikap egois. Kita tidak boleh banyak menuntut, memaksakan diri kita dan menganggap diri kita adalah yang terbaik atau sebagai pribadi yang tidak memiliki kesalahan.

üKita seharusnya sadar, bahwa kita juga bukanlah individu yang sempurna. Jadi, ketika ingin memperbaiki kesalahan suami/istri kita, selama kesalahan atau kekurangan dalam dirinya memang benar-benar tidak dapat diperbaiki, maka sebaiknya kita tidak menyederhanakan sebuah masalah dengan memvonis/memberikan hukuman yang tidak sepantasnya diberikan kepada kesalahan yang tidak terlalu prinsipil.

üEgoisme sikap, pada dasarnya dapat menghalangi tumbuhnya sikap tulus di dalam diri seseorang karena sikap egois membuat seseorang cenderung hanya memperhatikan atau mementingkan kepentingan diri sendirinya, dan seakan-akan lupa untuk berbuat baik kepada orang lain.

üAdanya egoisme, dapat membuat seseorang menjadi selalu memperhitungkan setiap perbuatan yang dilakukannya kepada orang lain. Hal tersebut justru membuat kita sulit untuk berbuat tulus pada suami/istri kita.

èUntuk apa kita mempertahankan sikap egoisme kita, kalau sikap egois tersebut justru membuat kita menghadapi dilema dalam membina hubungan harmonis dengan suami/istri kita yang telah kecewa terhadap sikap kita itu? Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

èUntuk apa kita lebih mementingkan diri (tidak memiliki respon baik pada lingkungan sekitar) kita sendiri, kalau sikap egois tersebut justru membuat suami/istri kita menjadi tidak senang sama kita? Hubungan dengannya dapat merenggang, bahkan bisa menuai bencana,cerai misalnya.{oh no…I don’t want}

Apabila kita memang untuk bersedia berbagi kasih dengan orang lain (MENIKAH), maka kita juga harus bisa menyatakan sikap sudah memutuskan tulus kita pada pasangan kita (dalam arti positif, tentunya).Oleh karena itu hendaknya masing-masing kita menempatkan ketulusan hati nurani pada saat menjalankannya.

Dengan bersikap tulus, berarti kita telah memberi makna indah akan adanya sikap menghargai orang lain, serta menghargai hubungan yang telah kita bangun dengan kekasih hati kita{suami-istri}. Ketulusan sikap, bukan hanya membuat orang lain senang, namun juga bisa membahagiakan diri sendiri.Oleh karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang bisa mendorong kita untuk dapat mencintai suami/istri kita dengan tulus.

Bersikap tulus memang seharusnya dijadikan budaya dalam kehidupan setiap orang karena dengan bersikap tulus, itu sama artinya telah menyatakan perbuatan kasih kepada orang lain. … hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Selamat berbagi kasih di dalam ketulusan (dalam arti positif tapinya yaaa…)

Sumber : www.kabarindonesia.com, dengan sedikit penambahan.

Senin, 17 Mei 2010

Kisah Penghuni Surga Terakhir

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?

Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?

Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.

Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya.

Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami.

Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam.

Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.

Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya).

Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat.

Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: "Laa ilaaha illallah".

Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur).

Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah.

Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain.

Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu.

Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga.

Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji.

Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi.

Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya.

Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.

Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji!

Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (ridha).

Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya

(HR Muslim no 267)

Jumat, 30 April 2010

Jumat, 02 April 2010

Beberapa Adab Mencari Ilmu Agama



Jum'at 02 April 2010

1. Mengikhlaskan niat karena Alloh Ta’ala yaitu dengan berniat belajar karena Alloh tidak karena ingin dikatakan sebagai ‘Alim.
2. Membersihkan hatinya dari segala kotoran supaya layak untuk menerima Alquran, menghafalnya dan mengambil faidahnya. Ada sebuah hadits dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal darah, apabila dia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya, ingatlah dia itu adalah hati”. (HR. Albukhori dan Muslim)
3. Rendah hati pada gurunya, bersikap sopan dan rendah hati pada ilmu. Dalam sebuah hadits Rosululloh SAW bersabda “ Kalian belajarlah ilmu, dan belajarlah untuk ilmu tersebut ketentraman dan ketenangan, dan rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya”. (HR. Ath Thobroni dalam Kitab Al-Ausath)
4. Hendaklan memandang gurunya dengan pandangan penuh hormat dan penghargaan disertai keyakinan akan kesempurnaan keahliannya.
5. Hendaklah menghormati majlis ilmunya, dengan tidak membicarakan kejelekan orang lain disisinya dan mengajak ngobrol dengan teman duduknya dan tidak bersikeras dalam bertanya.
6. Tidak menunjukkan perbedaan pendapatnya hingga dirinya merasa lebih tau mana yang paling benar daripada gurunya.
7. Tidak menunjukkan/mengisyaratkan tangannya pada sang guru, dan tidak memicingkan kedua matanya di dalam majlisnya, dan tidak berkata pada sang guru :”Ada seseorang yang telah menyelisihi pendapat anda itu”.
8. Hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam meraih ilmu di waktu muda, saat giat, berbadan kuat dan pikiran jernih.
9. Kami tutup adab ini dengan wasiat Abdulloh bin Mas’ud RA dia berkata “Layak bagi pembawa Alquran untuk mengenal malamnya saat manusia sedang tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang terjaga, dan dengan sedihnya saat manusia bergembira, dan dengan tangisannya saat manusia tertawa, dan dengan diamnya saat manusia berbicara, dan dengan khusyu’nya saat manusia berkhayal”.

Pahamilah ini! Semoga Alloh memberi manfaat dan barokah ...Alhamdulillahi jazakumullohu khoiro ...

Sumber : Muqodimah Kitab Taqribul Ma’ani Assathibiy (Kitab Qiroatus Sab’ah)

Senin, 15 Maret 2010

Kekayaan Terbesar


Copas dari ldii.or.id
semoga bermanfaat

Banyak orang mulai merasa kelelahan hidup. Hidup terasa begitu menyengat. Target – target begitu menghentak. Harapan – harapan banyak yang kandas. Lepas. Pagi buta terbangun, bergegas berangkat ke kantor, pulang malam dalam larut kepenatan dan kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di kulit. Kemudian suatu saat mereka jeda dan bertanya dalam diri: untuk apa hidup ini?Objek maupun subjek yang dikejar dalam hidup ini memang beragam. Ada yang mengejar kekayaan, ada juga yang berorientasi mencari kepopuleran. Yang penting keren. Beken. Ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya.

Dan tentu saja, itu semua menjadi hak setiap orang untuk memilih jalur bagi dirinya sendiri. Syah dan boleh – boleh saja. Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan, baik kekayaan luar maupun dalam. Jadi pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan pintas. Yang penting asal cepat jadi kaya.
Pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Maklum, nggak ada orang yang mau hidup susah. Penginnya enak terus. Terbukti dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Pun dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih nlisir di lorong - lorong kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi. Semua bisa, namun seorang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan sederhana menjadi kaya: contentment is the greatest wealth. Rasa cukup adalah kekayaan terbesar. Tentu agak unik mendengarnya. Apalagi di zaman yang penuh dengan hiruk - pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira miring atau dituduh gila sekalian. Akan tetapi inilah sebenarnya interpretasi sabda Rasulullah SAW; Sesungguhnya yang dikatakan kaya itu bukan banyaknya harta, akan tetapi yang disebut kaya adalah kaya diri (hati). (Rowahu Muslim)

Ada yang mengira, yang demikian itu menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai anti kemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Hanya saja, bagi setiap penekun kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Tengoklah sabda Rasulullah SAW, “Anak Adam berkata ini hartaku, hartaku. Padahal tidak ada harta baginya kecuali tiga hal yaitu apa yang dia makan dan habis, yang dia pakai dan rusak serta yang dia berikan dan menghasilkan pahala. Selain yang demikian itu, maka akan hilang dan ditinggalkan bagi manusia lainnya.” (HR Muslim).

Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup. Nrimo ing pandum. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk islam, diberi rizki cukup dan Allah menjadikan qona’ah (menerima/merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan.” (Rowahu Muslim). Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semuanya, manusia mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti inilah, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai dan bahagia. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, terpatri, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke jaring - jaring kehidupan. Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh beruntung, orang yang mujhid (bekerja giat) dan muzhid (hemat).(Al Hadist).
Para pinisepuh sering mengajarkan hidup berputar laksana roda. Dan setiap pencarian kekayaan ke luar – menjauhi roda - yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia terguncang ketakutan di pinggir roda. Namun jika mencari ke dalam - di titik pusatnya, maka tidak ada putaran sama sekali. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk mencoba dan melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini. Menuju ke titik pusat roda kehidupan.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Itulah idaman setiap orang. Hal ini bisa ditemukan pada orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di sisi lain. Bila orang-orang seperti ini mampu berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar dan mengagumkan di dalam. Biasa tampak luarnya, sederhana perilakunya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang lain dan sekelilingnya. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah. Kata-kata pujian dan makian ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup yang mendalam seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) disertai rasa cukup yang mendalam dan rasa syukur yang berlimpah, ditemukan kehidupan penuh daya guna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. Mari temukan dan daya gunakan..!

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

Selasa, 02 Maret 2010

Tips agar selalu niat karena Alloh



By : okim Gokiel

1. Selalu mengingat kepada Alloh yang akan memberikan kefadolan kepada orang yang niat karena Alloh dan selalu mengingat Alloh yang akan memberikan siksa kepada orang yang beramal tidak karena Alloh.

2. Senang beramal ibdah dengan cara bersembunyi tidak senang menampakkan amal ibdah yang dia kerjakan , dalam hadis bukhori dijelaskan “ ( diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Alloh besok dihari kiamah) : dan seorang laki laki yang menyamarkan shodaqohnya sehingga tangan kirinya tidak tahu pada sesuatu yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.


3. Merasa khawatir amalnya ditolak / tidak diterima seperti yang diterangkan dalam firman alloh :
    •  •    
“ Dan orang orang yang memberikan apa yang mereka berikan (shodaqoh) dengan hati penuh rasa takut bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada tuhan mereka (takut shodaqohnya tidak diterima)
Sehingga dia menghindari hal – hal yang menjadikan amalnya tidak diterima. Seperti kalau shodaqoh tidak mengundat – undat dan tidak menyakitkan hatinya orang yang diberi.

4. Tidak senang apabila amal kebaikan yang dia kerjakan dipuji oleh orang lain, sehingga dia tidak mau menceritakan kepada orang lain amal kebaikan yang telah dikerjakan.

5. Meneliti niat yang ada dalam hatinya sebelum melaksanakan amal kebaikan ( muroqobah ) seperti dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri sebelum beramal, “ apa yang anda inginkan dengan amalan yang akan anda kerjakan ini ??” jika niat sudah benar, kemudian anda meneruskan amal yang akan anda kerjakan, dan apabila niatnya belum benar maka anda membetulkan niatnya terlebih dahulu.


6. Memohon pertolongan kepada Alloh agar selalu bisa menata hatinya dengan karena Alloh dalam beramal dan terhindar dari niat niat lain yang membuat leburnya amal (isti’anah ) termasuk salah satu diantaranya selalu mengucapkan doa seperti dibawah ini :
“ allohumma inni a’udzubika an usyrikabika syaian wa-ana a’lamuhu, wa-astagfiruka lima la a’lamu” …………. yang artinya ya Alloh sesungguhnya aku minta perlindungan padaMu seandainya aku berbuat syirik padaMu yang mana aku mengetahuinya, dan aku minta ampun padaMu atas sesuatu yang aku tidak mengetahuinya.

Semoga bermanfaat….. alahamdulillahi jaza kumullohu khoiro…………..

Rabu, 24 Februari 2010

Prinsip-Prinsip Pikiran


by Arvan Pradiansyah

Pointers:

Prinsip-Prinsip Pikiran (dirangkum dari buku The 7 Laws of Happiness).

Prinsip 1 : Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.

Prinsip 2: Kita tak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.

Prinsip 3: Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu memasukkan makanan ke dalam pikiran kita.

Prinsip 4: Kita hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu.

Prinsip 5: Pada saat kepala Anda terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.

Prinsip 6: Kemampuan untuk mengubah pemikiran adalah seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.

Prinsip 7: Pikiran tidak dapat membedakan mana kejadian yang telah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi. Begitu Anda memikirkan kejadian yang Anda alami walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-oleh kejadian tersebut baru saja terjadi.

Senin, 22 Februari 2010

MIYABI DAN PORNO

Assalamu Alaikum Wr.Wb
Seandainya kita membaca "Burung" apakah ini Porno?
Seandainya kita membaca "Susu" apakah ini Prono?
Seandainya kita membaca "Ciuman" apakah ini Porno ?
Seandainya kita membaca "Telanjang" apakah ini Porno ?
Seandainya kita tulis ”MIYABI” apakah yang terbayang film porno??
The Word doesn't Mean, But People Mean....(Kata tidaklah bermakna.tetapi manusialah yang memaknai)
Telanjang" sebagai kata, akan bermakna tertentu ketika dipakai dalam kalimat "Petani itu bertelanjang dada sambil mengayunkan cangkulnya"...."Burung" sebagai kata, akan bermakna tertentu ketika dipakai dalam kalimat
"flu burung sudah menyebar ke seluruh dunia"...Atau kata ”ciuman”,Ayah memberikan ciuman sayang pada anaknya
Kata-kata, kalimat, simbol, lambang, pada dasarnya tidak ada artinya...sampai manusia itu memaknainya... Dan makna yang dipahami oleh tiap2 manusia adalah tergantung kepada "Gambaran di kepala kita" kata Water Lippman,"Gambaran di kepala kita" tergantung kepada "Cara Berpikir" kita dan juga tergantung kepada "Pengalaman pribadi"....Inilah yang membentuk Persepsi di dalam diri tiap-tiap manusia...Persepsi ini timbul dari hati manusia.Jadi porno dan nafsu tergantung hati manusianya sendiri…
Sekarang apa hubungannya dengan Miyabi??Kita kan tau saat ini..rame semua media geger rencana kedatangan Miyabi atau Maria Ozawa (yang bukan orang Zawa,tapi Jepang campur Perancis) ini pada 15 Oktober…sampe semua demo…Kyai demo,santri demo.sampe anak TK ikutan demo…..Yang tidak kenal dan tidak tau siapa Miyabi jadi penasaran buka buka internet,akhirnya dapet dech fotonya,dapet dech filmnya,tanpa sadar orang Indonesia diseret jadi budak Miyabi,malah banyak yang kagum…perjuangannya…aneh aneh….Jadi sebenarnya yang bikin nama Miyabi jadi sama dengan film porno itu..ya..masyarakat dan pers sendiri…Padahal saya dari dulu taunya Miyabi itu merk Isuzu Panther,jenis Miyabi…
Nah …Indonesia ini emang hobby bikin orang lain ngetop…Ingat Manohara Vs Teuku Fahry…?sapa sich yang kenal orang itu,tapi sekarang namanya meroket,kayak artis Holywood….Eh…sekarang miyabi van Ozawa…dibikin meroket…..Yang mesti kita inget Negara kita ini memang Negara sekuler…..kecuali kita sudah berazas Islam,jelas orang kayak gini gampang diberanus,gak boleh datang…Tapi syukur juga sich ..masih ada yang peduli moral anak kita rusak…padahal dengan banyak diberitakan,anak kita,yang tadinya gak tau jadi penasaran itu tadi…Padahal saya perhatikan,anak muda, banyak yang udah tau duluan siapa MIyabi ini,bahkan anak muda udah punya koleksinya..weleh weleh…,(kok pada ketawa,??kalo orang sunda bilang seuri koneng….ketawa sambil ngaku…Iya saya udah liat miyabi kok…)..
Kalau saya pikir…untuk penjagaan anak anak muda dan kita semua tentunya mulailah menjaga hati mereka , membersihkan hati kita dari pikiran2 yang porno ?bikin kegiatan yang ,membuat mereka gak sempat PIKTOR (Pikirannya Kotor)….Apapun yang ada disekitar kita,apapun yang ada diluar diri kita,godaan apapun seberat apapun, jika hati kita terjaga,adakah yang akan terpengaruh ?
Tidak menjadi masalah banyaknya bom dipasang oleh teroris dimana2, yang menjadi masalah adalah ketika bomnya meledak.. Tidak menjadi masalah adanya banyak godaan,yang penting kan tidak tergoda...Tapi memang sebaiknya kita juga menjaga jarak dari pengaruh yang buruk .Ilustrasi sederhana adalah: ketika kita tahu kalo ada lubang di sebuah jalan. Maka ketika tahu itu berbahaya,kita bakalan hati-hati melewati jalan tersebut. Karena sering lewat situ, akhirnya kita belajar bagaimana caranya menghindari jalan itu meski pada malam hari. Kita amati dan ingat tempat mana saja yang lubangnya berbahaya. Terakhir, kalo kita sampe ke tahap berpikir adalah ketika kita mulai memasang papan peringatan demi keselamatan orang lain, misalnya: “Hati-hati ada lubang!” Bahkan lebih keren lagi kita lapor ke aparat ( laporin pengurusnya), setempat untuk memperbaiki jalan berlubang tersebut karena bisa membahayakan orang lain. …Itu baru TOP tuh…
Kembali ke laptop….urusan Miyabi…cuekin aja…jangan digubris,gak usah demo demoan…cukup kita tau dia artis porno dan gak pantes jadi tamu,apalagi disambut..,bangsa ini masih banyak masalah yang harus dibereskan.Generasi Penerus masih perlu dikuatkan dan digerakkan penjagaannya…daripada ngurusin Miyabi yang gak jelas..Apalgi sampe browsing nyari filmnya….Awas dilaporin yah…!!!hehehe
Ada sebuah kisah seperti ini,
"Sekali waktu kita rencana mau bertemu dengan tuan rumah, tetapi didepan pintu masuknya, ada 4 anjing besar yang menggonggong dan mengarah ke kita. Manakah yang kita pilih? sibuk mengusir anjing2 itu sehingga menyebabkan kita tidak jadi bertamu dan bertemu dengan pemilik rumah? ataukah kita memilih untuk memanggil Tuan rumahnya?
Jika tuan Rumahnya keluar dan melihat anda digonggongi ajing2nya, pastilah tuan rumah akan memberikan kode dan memerintahkan agar anjing2 tersebut pergi meninggalkan anda"
Manakah yang akan kita pilih, seumur hidup habis hanya untuk mengurusi nafsu kita......ataukah kita memilih untuk memanggil Majikan Pemilik nafsu itu ?Siapa dia?ALLAH SUBHANA WA TAALA.Berlindunglah kepadaNya dari semua nafsu dan godaan di dunia yang fana ini
Wassalammu laikum wr.wb.

Selasa, 16 Februari 2010

Pernahkah Anda Berfikir



Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang.

Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mngerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

Minggu, 14 Februari 2010

Waspadai Fatamorgana Dunia



“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman [31]: 33)

Kehidupan dunia hanya kesenangan sementara, namun banyak yang tidak selamat pada jebakan itu. Nafsu menjadi pengendali hidupnya, hingga tidak pernah ada kepuasan atas apa yang dimiliki. Semua selalu kurang dalam pandangannya.

Mengapa hanya karena untuk memenuhi kebutuhan dunia, manusia rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran? Seolah-olah dunia adalah segalanya? Penyebabnya karena dunia dianggap penting! Semakin orang menganggap penting suatu perkara, maka semakin besar pula pengorbanan untuk mencapai hal tersebut. Demikian pula dengan kehidupan duniawi, hingga ibadah pun biasa saja, sekadar luput dari kewajiban.

Sebagai contoh, banyak orang menunda panggilan muadzin untuk bersegera melakukan shalat, hanya karena rapat belum selesai. Itu terjadi karena rapat dianggap lebih penting daripada shalat. Betapa sombongnya kita seolah-olah kehidupan ditentukan oleh kita lewat rapat tersebut. Seolah-olah tahu yang akan terjadi, dan semuanya tergantung pada ikhtiar kita. Padahal, segala sesuatu itu terjadi mutlak kehendak Allah yang Maha Menentukan.

Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada ikhtiar, ilmu, tenaga dan kecerdasannya, lupa kepada sang Maha Pemberi Segalanya. Kejayaan dunia, harta dan tahta menjadi tolak ukur kemuliaan dalam hidup. Hatinya telah tertutup dengan silaunya dunia, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-baqarah [2]: 212): “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”

Cukuplah Allah segala-galanya bagi kita, Ia Maha Tahu yang terbaik bagi kita. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kasih dan Sayang. Insya Allah, bagaimanapun banyaknya masalah yang dihadapi namun bagi orang yang hatinya sudah mantap kepada Allah, tidak ada gentar ataupun takut. Allah telah memberikan ketenangan hati padanya dan solusi dari jalan yang tidak disangka-sangka serta dibukakan hikmah dari setiap kejadian. Semoga kita selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi pecinta Allah sejati.

Jumat, 12 Februari 2010

Keberhasilan adalah Buah Kesabaran


angan terkecoh dengankeberhasilan seseorang. Dibalik kejayaan selalu ada jalan panjang yang berisikan catatan perjuangan dan pengorbanan, keringat dan kepayahan. Tak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan. Bila anda terpesona pada kenyamanan yang siberikan oleh kesuksesan, anda bisa lupa dari keharusan untuk berupaya. Namun, bila anda terkagum pada ketegaran seseorang dala berusaha, maka anda telah menyerap sebuah energi kekuatan, keberanian dan kesabaran.

Pohon besar mampu menahan terjangan badai karana memiliki batang dan akar yang kokoh. Belasan tahun diperlukan untuk menunbuhkan dan melatih kekuatan. Bulan demi bulan, hujan menguatkan jaringan kayunya. Tahun demi tahun, pohon-pohon besar lain melindungi dari terpaan hujan. Tak ada hitungan malam untuk mencetak sebongkah batang yang tegar. Tak ada hitungan siang untuk menumbuhkan akar yang kekar mencengkeram bumi. Hanya dengan kesabaran anda bisa meraih keberhasilan. Tumbuhlah kesabaran bukan sekedar kecepatan meraih sukses.

Hanyalah Sementara



Adakalanya tiba masa-masa sulit, yang membuat hidup terasa penuh kepedihan dan keluh kesah. Namun pada saatnya jua tibalah masa kegembiraan, yang membuta hidup terasa ringan dan terang. Tanpa sadar bibir kita basah dengan senyuman. Sesungguhnya kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, keriangan, dan emosi-emosi lain hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Tak selamanya kesedihan dan kegembiraan melanda Anda. Semua itu datang silih berganti, tanpa dapat selalu dinanti.

Yang perlu Anda pahami adalah kesementaraan ini. Kesementaraan menunjukkan bahwa emosi-emosi itu bukanlah milik Anda. Ia hanya sebuah tawaran dari alam yang menuntun tindakan dan sikap Anda. Ia bukanlah Anda. Saat gembira sadarilah kegembiraan itu. Saat sedih, pahamilah kesedihan itu. Saat Anda penuh dengan kesadaran akan emosi Anda , saat itu andabersentuhan dengan jiwa yang tenang milik Anda.

Rabu, 10 Februari 2010

IKHLAS



Awal tahun lalu ada email yang dikirim salah satu saudara kita yang menarik perhatian saya. Kalau tidak salah berjudul Renungan Akhir Tahun: Seandainya Surga dan Neraka Tak Ada. Uraian panjang lebar itu, menurut saya intinya adalah satu yaitu masalah ikhlash. Seberapa besar sih, keikhlashan kita dalam beribadah? Sejauh mana sih pemahaman kita tentang ikhlash ini? Dan mana sih dalilnya? Kenapa begitu penting sampai – sampai dengan bombastis ditanyakan, apakah manusia mau tetap ibadah seandainya tidak ada surga dan neraka? Saya mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari dinamika ikhlash ini, sebab dalil – dalilnya banyak kita jumpai dengan mudahnya.
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan agama-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni. (QS Az-Zumar 2 - 3)

Dari Abu Umamah ia berkata, ‘Datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Bagaimana pendapatmu seorang lelaki yang berperang mencari pahala dan sebutan (nama), dia mendapatkan apa?” Rasulullah SAW berkata, “Dia tidak mendapatkan apa – apa.” Lelaki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali dan Rasulullah SAW selalu menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa – apa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali apa yang ikhlash karenaNYa dan dimaksudkan semata demi wajahNya. (Rowahu Abu Dawud)

Dari Abu Darda’, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Dunia itu dilaknat dan apa yang ada di dalamnya dilaknat, kecuali apa yang dicari dengannya wajah Allah.” (Rowahu ath-Thabrani)

Atsar – atsar di atas dengan jelas menunjukkan pentingnya ikhlash dalam beramal. Dan salah satu cerita favorit saya masalah ikhlash ini adalah cerita tiga orang yang terjebak batu di gua. Berikut salah satu versinya.

Dari Ibnu Umar, dia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga umat dari sebelum kalian yang sedang bepergian, sehingga mereka harus bermalam di sebuah gua, mereka masuk ke dalamnya. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari gunung dan menutup pintu goa. Mereka berkata, “Yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah doa kalian kepada Allah dengan amal baik kalian.” Salah seorang dari mereka berkata; ’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar.

Rasulullah SAW bersabda lagi: ‘Yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘Ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: ’Tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar.

Rasulullah SAW bersabda lagi: ‘Kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “Wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab: ’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata : ’Wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “Sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Rowahu al-Bukhary, Muslim, an-Nasa’i)

Kemudian hadits qudsi yang ini, dari adh-Dhahak bin Qois, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah yang Maha Barokah lagi Maha Tinggi berfirman, ”Aku adalah sebaik – baik sekutu. Barangsiapa menyekutukanKu dengan seorang sekutu, maka ia untuk sekutuKu. Wahai manusia, ikhlashkanlah amal – amal kalian, karena Allah tidak menerima amal kecuali apa yang diikhlashkan untukNya. Jangan kalian berkata, ’Ini karena Allah dan kerabat, karena ia adalah karena kerabat dan tak ada sedikitpun darinya yang karena Allah. Jangan pula berkata ini karena Allah dan wajah – wajah kalian, karena ia adalah karena wajah – wajah kalian, dan tak sedikitpun darinya karena Allah.” (Rowahu al-Bazzar dan al-Baihaqi)
Nah, menerawang kembali dalil – dalil di atas, terlintaslah apa yang sering diingatkan Pak Haji Djuanda dulu untuk mengingat kembali dan meneliti agar satu-satunya diri bisa menjaga tiga kunci kemurnian selalu. Yaitu murni niat, murni pedoman dan murni amalan. Dan setelah tabrak sana – tabrak sini, kebentur sana – kebentur sini, kejedot sana kejedot sini, baru nyadar ternyata ikhlash itulah padanan lain dari kata murni. Terutama untuk kemurnian niat. Ikhlash adalah memurnikan ibadah hanya karena Allah. Ikhlash adalah memurnikan ibadah untuk mencari wajah Allah. Ikhlash adalah kesadaran beribadah karena tahu akan hak dan kewajiban atau kebaikan mengalahkan yang lain - lainnya. Bukan karena paksaan. Maka bagi yang ingin mendapatkan kejelasan lebih lanjut, bandingkanlah ikhlash ini dengan riya. Ikhlash tidak boleh ada embel – embel lain, ditumpangi atau disertai dengan lainnya. Bahkan dalam penyederhanaannya, Deddy Mizwar mencoba memberikan pemerian ikhlash dalam film Kiamat Sudah Dekat sebagai syarat terakhir dalam mencari menantu.

Membaca kembali dalil – dalil di atas, bukan bermaksud menggurui - rasanya ikhlash merupakan hal penting dalam beribadah. Ikhlash pegang peranan kunci dalam diterima atau ditolaknya amalan. Tanpa mengurangi rasa hormat, tanpa bermaksud berpanjang kali lebar, hal ini sering dinasehatkan dengan kalimat sederhana ”disertai niat mukhlish lillah karena Allah”. Dan tentunya, seiring dengan naik – turunnya keimanan itu sendiri, pemahaman, pencapaian dan pengertian ikhlash ini sangat tergantung bagaimana setiap insan mereposisi diri, mau fastabiqul khairot atau pilih yang sedang – sedang saja. Akhirnya, anda sendirilah yang bisa mengukur dan menjawabnya.

Senin, 01 Februari 2010

Dasar Setan !!!!


Assalamualaikum.Wr.Wb
Seringkali kita menyalahkan setan sebagi biang kerok dari segala dosa yang kita perbuat. Padahal kalau kita lihat dalam Al-Quran, setan itu hanya bisa mengajak pada perbuatan dosa. Setan dan Iblis tidak bisa memaksa berbuat dosa.
Setan hanya mengajak dan memprovokatori manusia untuk berbuat dosa.Manusia mempunyai hak memlilih untuk melakukan perbuatan dosa atau tidak.

Dalam Kitab Suci Alqur’an Surat Ibrahim ayat 22 :

Berkata Syaithan “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan padamu janji yang benar,dan akupun telah menjanjikan kepadamu,tetpi akau menyalahinya.Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu (manusia),melainkan (sekedar) aku menyeru kamu,lalu kamu mematuhi seruanku,, Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali kali tidak dapat menolongmu,dan engkaupun tidak dapat menolongku.Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih.
Jadi jelaslah kita tidak dapat menyalahkan setan. Apalagi memintanya bertanggung jawab atas dosa yang kita perbuat. Kita mengantuk waktu mengaji, setan kita salahkan.Kita berbuat maksiat, setan pula kita salahkan. Padahal jelas dalam ayat di atas, setan hanya bisa menghimbau dan menyeru, tidak bisa memaksa, apalagi secara fisik menarik tangan kita untuk memegang wanita yang bukan muhrim, atau menarik bibir kita untuk mencium perempuan yang disukai. Tapi kalau sudah kejadian maksiat terjadi, biasanya kita ngomong “Dasar Setan..!!!”...
Padahal setan Cuma menjalankan sumpahnya dan menjalankan perannya sebagai bentuk kekecewaaannya di usir dari surga.Inilah yang perlu kita waspadai, dendam Iblis begitu besar kepada manusia. Dia diusir dari surga karena kesombongannya, karena itu iblis berusaha menularkan penyakit congkak dan sombong ini kepada manusia, untuk menyeret manusia bersama dengannya ke Neraka. Kesombongan iblis terhadap Adam adalah kesombongan yang disebabkan oleh nasab (asal muasal). Dan kemudian kesombongan itu menyeretnya kepada kesombongan terhadap perintah Allah swt. Jadi kalau ada manusia yang merasa bangga dan sombong karena nasab (asal muasalnya), misalnya turunan raja, keraton, atau turunan kyai, maka manusia ini sudah jadi murid iblis.
Dan para orang yang banyak ilmu, orang yang ditokohkan, orang yang banyak nasehat bukanlah orang yang dikecualikan. Kalau manusia sudah tertulari penyakit ini, tak peduli apapun profesinya dan pekerjaannya, setinggi apapun ilmunya, sebanyak apapun amal kebajikannya, dia akan menganggap dirinya sebagai yang paling baik dan menganggap pihak yang berbeda dengannya tidak bernilai bahkan sebagai musuh.Orang seperti ini sudah susah dinasehati, merasa benar sendiri. Seolah Surga hanya miliknya sendiri.
Jadi kuncinya sebenarnya adalah perkuat benteng iman dari himbauan dan provokasi setan iblis laknat jahanam ini, bukan hanya bisa menyalahkan, tapi tidak menambah tebal benteng iman dengan banyak mengaji, mengamal, membela, mendatangi pengajian, dan meningkatkan Taqwa kita pada Allah dan RasulNya.
Ada baiknya kita berpegang pada suatu kaidah ini. Apabila kita berpihak pada sesuatu, maka mesti ada pihak yang dikorbankan. Kalau kita berpihak pada jalan Allah, maka setan korbannya karena seruannya gagal.Kalau kita berpihak pada seruan Setan, maka Allah korbannya. Tinggal kita memlih ,mengorbankan Setan atau mengorbankan Allah.